Perang AS-Israel Vs Iran Meluas, Negara Teluk Terjebak di Persimpangan

Ledakan rudal yang menghantam ibu kota dan kota-kota besar Teluk sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran telah mengguncang citra kawasan itu sebagai oase stabilitas. Negara-negara Teluk kini menghadapi pilihan yang mustahil: membalas dan berisiko dipersepsikan berperang bersama Israel, atau tetap pasif saat kota-kota mereka terbakar.

Daftar Isi

Dilema yang Menyakitkan bagi Negara Teluk

Negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) terjebak dalam posisi serba sulit. Mereka telah berusaha keras mencegah pecahnya aksi militer ini. Monica Marks, profesor politik Timur Tengah, menyatakan menyaksikan kota-kota Teluk dibom sama anehnya bagi warga lokal seperti melihat kota-kota AS dibom bagi warga Amerika.

Jika mereka terlibat dan dipandang bekerja sama dengan Israel, hal itu akan menjadi tantangan besar bagi legitimasi mereka. Di sisi lain, tetap pasif ketika Iran berulang melancarkan serangan juga membawa risiko tersendiri. Rob Geist Pinfold dari King's College London menyebut situasi ini sebagai dilema rumit.

Respons terhadap Opini Publik

Pemerintah-pemerintah Teluk sangat responsif terhadap opini publik. Mereka ingin terlihat melindungi rakyatnya, wilayahnya, dan kedaulatannya. Pinfold memperkirakan mereka mungkin akan mengambil langkah dengan cara sendiri, kemungkinan melalui upaya kolektif GCC.

"Mereka tidak ingin terlihat bekerja untuk Israel atau bekerja bersama Israel," kata Pinfold. "Mereka ingin terlihat memimpin, bukan sekadar mengikuti."

Serangan dan Balasan yang Mengubah Lanskap

Serangan Iran terjadi sebagai balasan atas gempuran besar-besaran gabungan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pemimpin militer senior. Teheran membalas dengan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta aset militer AS di seluruh kawasan Teluk.

Sedikitnya tiga orang tewas di Uni Emirat Arab (UEA), dengan puluhan terluka di negara-negara Teluk lainnya. Rudal menghantam bangunan ikonik di Dubai, gedung-gedung tinggi di Manama, serta bandara Kuwait. UEA bahkan menarik duta besarnya untuk Israel, sinyal tegas atas frustrasi terhadap arah eskalasi konflik.

Perang yang Berusaha Dihentikan

Negara-negara Teluk disebut tidak menginginkan konfrontasi ini. Dalam beberapa pekan sebelum serangan, Oman memediasi perundingan tidak langsung antara Washington dan Teheran. Menteri Luar Negeri Oman bahkan menyatakan perdamaian sudah "dalam jangkauan" setelah Iran sepakat tidak akan menimbun uranium yang diperkaya.

Namun hanya beberapa jam kemudian, AS dan Israel meluncurkan rudal. Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, telah melobi Washington secara intensif agar tidak menggunakan pangkalan di Teluk untuk operasi melawan Iran. Mantan Perdana Menteri Qatar menegaskan negara-negara GCC "tidak boleh terseret ke dalam konfrontasi langsung dengan Iran".

Skenario Mimpi Buruk dan Ancaman Vital

Kekhawatiran paling mendesak bagi para pemimpin Teluk adalah potensi serangan terhadap infrastruktur vital. Jaringan listrik, fasilitas desalinasi air, dan instalasi energi menjadi target rentan. "Tanpa pendingin udara dan fasilitas desalinasi air, negara-negara Teluk yang sangat panas dan kering pada dasarnya tidak layak dihuni," kata Marks.

Krisis ini berdampak jauh melampaui kawasan. Sebanyak 16% energi dunia berasal dari Qatar dan 33% minyak global mengalir melalui Selat Hormuz. "Jika sesuatu terjadi di sini, tidak akan ada listrik di Osaka. Harga bahan bakar di China akan melonjak," tegas seorang analis.

Ancaman terhadap Soft Power

Ancaman terdalam justru bersifat reputasional. Kerusakan jangka panjang akan menghantam kekuatan lunak (soft power) negara-negara Teluk sebagai kawasan yang stabil dan dapat diprediksi untuk investasi dan pariwisata. Namun beberapa analis menolak anggapan bahwa citra tersebut telah runtuh, mengingat rekam jejak GCC dalam menghadapi tantangan.

Era Baru Perang Antarnegara di Timur Tengah

Krisis ini menandai perubahan dramatis dalam dinamika keamanan kawasan. Selama bertahun-tahun, perhatian negara-negara Teluk lebih terfokus pada aktor non-negara. Kini, perhitungannya berubah secara fundamental. "Apa yang kita saksikan adalah paradigma baru di Timur Tengah, atau kembalinya paradigma lama, yakni perang antarnegara," kata Pinfold.

Sebelum perang pecah, negara-negara Teluk justru memandang Israel sebagai ancaman yang lebih besar terhadap stabilitas kawasan dibanding Iran. "Penilaian itu kini terlihat sangat berbeda," ujar Marks. Salvo awal Iran bersifat luas dan mengkhawatirkan karena menyasar berbagai target secara menyebar.

Mencari Jalur Keluar

Untuk saat ini, negara-negara Teluk tengah menghitung ulang langkah mereka. Keputusan berikutnya akan sangat bergantung pada apakah Iran menawarkan "tangga eskalasi yang lebih rasional", sebuah jalur yang memungkinkan mereka tetap berada di pinggir konflik. Namun dengan cakrawala kota-kota berkilau mereka kini ternodai bekas ledakan rudal, ruang untuk tetap berada di luar konflik itu tampaknya kian menyempit.