LAMAN BICARA, PALANGKA RAYA — Dampak kebakaran hutan dan lahan atau karhutla serta kondisi kekeringan di Kalimantan Tengah mulai dirasakan oleh berbagai kelompok masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyalurkan sebanyak 3.500 paket bantuan pangan kepada mahasiswa terdampak, dengan prioritas penerima berasal dari wilayah pelosok dan pedalaman. Penyerahan bantuan berlangsung di halaman Istana Isen Mulang, Palangka Raya, Rabu, 16 September 2026.
Bantuan tersebut disalurkan di tengah masih berlangsungnya penanganan karhutla dan kekeringan di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah. Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menyampaikan bahwa bantuan menjadi salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap mahasiswa yang ikut terdampak kondisi karhutla maupun kekeringan.
Setiap paket yang disalurkan berisi 5 kilogram beras, 2 liter minyak goreng dan 1 kilogram gula. Selain bahan pangan, mahasiswa juga menerima multivitamin dan masker KN95 sebagai perlengkapan pendukung kesehatan di tengah kondisi udara yang terdampak asap. Mahasiswa yang hadir juga mendapatkan makanan bergizi berupa bubur kacang hijau dan telur rebus.
Penyaluran Dibagi Dua Tahap
Untuk menghindari kepadatan saat pengambilan bantuan, distribusi 3.500 paket tersebut dilakukan dalam dua tahap. Sebanyak 1.800 paket diserahkan pada tahap pertama, sedangkan 1.700 paket lainnya dijadwalkan disalurkan pada tahap berikutnya pada hari yang sama. Pembagian menggunakan nomor paket agar proses distribusi dapat berlangsung lebih tertib.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah Muhammad Reza Prabowo menjelaskan, pendataan mahasiswa penerima dilakukan secara daring. Data penerima kemudian diverifikasi saat pengambilan bantuan untuk memastikan paket benar-benar disalurkan kepada mahasiswa yang telah terdata.
Perhatian terhadap mahasiswa dinilai penting karena dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kebakaran lahan. Kabut asap dan kondisi lingkungan juga dapat memengaruhi aktivitas pembelajaran. Dinas Pendidikan Kalteng menyebut terdapat mahasiswa yang menjalani Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ, sementara sebagian lainnya masih mengikuti perkuliahan secara langsung.
Pemerintah provinsi juga menyediakan ruang oksigen bagi mahasiswa di kawasan Bundaran Besar Palangka Raya. Fasilitas tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya perlindungan kesehatan masyarakat ketika kualitas udara terpengaruh kabut asap.
Kekeringan Juga Menekan Ketersediaan Air
Selain persoalan asap, kekeringan menjadi masalah lain yang berjalan beriringan dengan karhutla. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyatakan telah mendistribusikan hampir dua juta liter air kepada masyarakat serta melakukan pembangunan sumur bor multifungsi untuk membantu menghadapi keterbatasan air bersih.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa dampak musim kering tidak berhenti pada munculnya titik api. Ketika kemarau berlangsung cukup lama, masyarakat dapat menghadapi tekanan berlapis mulai dari berkurangnya sumber air, meningkatnya risiko kebakaran, gangguan kualitas udara hingga bertambahnya kebutuhan pengeluaran sehari-hari.
Bagi mahasiswa yang berasal dari wilayah pedalaman dan sedang menempuh pendidikan jauh dari kampung halaman, situasi tersebut berpotensi menambah beban. Karena itu, bantuan pangan dan perlengkapan kesehatan diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar mereka selama kondisi karhutla masih berlangsung.
Hotspot Kalteng Turun, Ancaman Belum Berakhir
Perkembangan terbaru menunjukkan jumlah titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi mulai mengalami penurunan. Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Rabu, 16 September 2026 pukul 21.00 WIB, secara nasional terdeteksi 479 hotspot kategori high confidence, turun sebanyak 558 titik dibandingkan pemantauan sebelumnya.
Kalimantan Tengah tercatat memiliki 102 hotspot kategori high confidence, turun dari 266 titik pada pemantauan sebelumnya. Meski turun cukup signifikan, Kementerian Kehutanan menyatakan Kalimantan Tengah masih termasuk wilayah dengan konsentrasi hotspot tinggi di antara enam provinsi prioritas, sehingga patroli, pengecekan lapangan, pemadaman, pembasahan dan pendinginan tetap diperkuat.
Kementerian Kehutanan juga mengingatkan bahwa data hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tetap memerlukan verifikasi langsung di lapangan. Satu peristiwa kebakaran bahkan dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot.
Penurunan jumlah hotspot tentu menjadi perkembangan positif, tetapi belum menjadi alasan untuk mengendurkan kewaspadaan. Api masih dapat muncul atau kembali membesar, terutama pada lahan gambut yang memiliki karakteristik bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah.
Karhutla Lamandau Masih Ditangani hingga Malam
Situasi serupa masih terlihat di Kabupaten Lamandau. Pada Rabu, 16 September 2026, tim gabungan masih berjibaku menangani kebakaran lahan gambut di Desa Batu Hambawang, Kecamatan Sematu Jaya. Proses pemadaman berlangsung sejak siang hingga malam, sementara api dilaporkan belum sepenuhnya padam.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lamandau Hendikel menyampaikan sekitar 7 hektare area telah berhasil dipadamkan. Salah satu kendala terbesar yang dihadapi petugas adalah jauhnya sumber air dari lokasi kebakaran, sehingga air harus dipasok dari Sungai Lamandau menggunakan armada truk tangki.
Pemadaman melibatkan puluhan personel gabungan dari BPBD, TNI, Brimob, Polres Lamandau, Polsek Bulik, Satpoldam serta relawan. Berbagai perlengkapan dikerahkan mulai dari truk tangki, mesin apung, puluhan gulung selang hingga drone untuk membantu memantau pergerakan api. Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan kepolisian.
Sehari sebelumnya, tim gabungan juga dikerahkan menangani kebakaran di sejumlah kawasan di Kecamatan Bulik, termasuk Desa Sungai Mentawa serta kawasan perbatasan Sungai Mentawa dan Desa Tamiang. Kondisi tersebut menunjukkan ancaman karhutla di Lamandau masih membutuhkan perhatian serius meskipun di beberapa daerah mulai terjadi hujan lokal.
Dampak Karhutla Kini Menyentuh Banyak Sektor
Karhutla bukan lagi sekadar persoalan lahan yang terbakar. Dampaknya dapat menjalar ke kesehatan masyarakat, ketersediaan air bersih, aktivitas pendidikan, transportasi, kegiatan ekonomi hingga kehidupan sosial masyarakat.
Penyaluran bantuan kepada ribuan mahasiswa di Palangka Raya menjadi salah satu gambaran bagaimana dampak bencana lingkungan dapat menyentuh kelompok yang mungkin tidak berada langsung di lokasi kebakaran. Ketika asap meluas dan kekeringan berlangsung berkepanjangan, masyarakat di luar kawasan titik api pun dapat terkena dampaknya.
Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan dua langkah yang berjalan bersamaan. Pemadaman dan pendinginan harus terus dilakukan di lapangan, sementara perlindungan bagi masyarakat yang terdampak juga perlu diperkuat.
Masyarakat Kalimantan Tengah, termasuk di Kabupaten Lamandau, tetap diminta meningkatkan kewaspadaan dan menghindari kegiatan yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Setiap kemunculan titik api sebaiknya segera dilaporkan kepada pemerintah desa, BPBD, TNI, Polri maupun petugas terdekat sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kebakaran semakin meluas.
Turunnya jumlah hotspot merupakan kabar baik, tetapi pekerjaan belum selesai. Selama lahan masih kering, sumber air terbatas dan kebakaran masih ditemukan di lapangan, ancaman karhutla tetap menjadi persoalan bersama yang membutuhkan kesiapsiagaan pemerintah dan seluruh masyarakat.