LAMAN BICARA, PANGKALAN BUN — Dampak kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan Tengah mulai merambah agenda olahraga tingkat provinsi. Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XIII Kalimantan Tengah 2026 yang semula dijadwalkan mulai berlangsung pada 2 Oktober 2026 di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, dipastikan mengalami penundaan. Kondisi karhutla di sejumlah wilayah Kalteng menjadi salah satu pertimbangan dalam keputusan tersebut.

Kepastian penundaan disampaikan Pengurus Kabupaten Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kotawaringin Barat melalui surat Nomor 70/KONI-KTB/IX/2026 tertanggal 15 September 2026. Surat itu ditujukan kepada seluruh pengurus cabang olahraga di Kabupaten Kotawaringin Barat dan kemudian dipublikasikan pada Rabu, 16 September 2026.

Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa penundaan berkaitan dengan penyampaian Gubernur Kalimantan Tengah dalam kunjungannya ke Kabupaten Kotawaringin Barat beberapa waktu sebelumnya. Kondisi karhutla yang berdampak di sejumlah wilayah provinsi juga disebut menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan.

Penundaan ini menjadi perkembangan penting bagi dunia olahraga Kalimantan Tengah. Porprov bukan hanya agenda pertandingan, tetapi menjadi puncak dari rangkaian persiapan panjang para atlet, pelatih dan pengurus cabang olahraga dari seluruh kabupaten dan kota di provinsi tersebut.

Jadwal Baru Belum Ditetapkan

Ketua Harian KONI Kotawaringin Barat Arif Asrofi menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu keputusan resmi mengenai waktu baru pelaksanaan Porprov XIII Kalteng 2026.

KONI Kobar juga masih menunggu keputusan resmi dari Gubernur Kalimantan Tengah sebelum jadwal terbaru dapat disampaikan kepada cabang olahraga dan kontingen peserta. Dengan demikian, hingga informasi terbaru diterbitkan, belum terdapat tanggal pengganti yang dapat dijadikan acuan bagi para atlet maupun pemerintah daerah peserta.

Situasi tersebut membuat seluruh daerah peserta harus menyesuaikan kembali program persiapannya.

Tidak hanya jadwal keberangkatan yang berpotensi berubah. Program pemusatan latihan, pembagian waktu latihan, kesiapan fisik atlet, kebutuhan akomodasi, transportasi hingga pengaturan anggaran kontingen juga harus kembali disesuaikan setelah jadwal pertandingan bergeser.

KONI Kobar meminta para atlet tidak menghentikan persiapan selama masa penundaan. Waktu tambahan justru diharapkan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan sekaligus menjaga kondisi fisik dan mental atlet.

Atlet Diminta Tetap Berlatih

Penundaan sebuah kompetisi besar seperti Porprov memiliki tantangan tersendiri bagi atlet dan pelatih.

Program latihan atlet pada umumnya disusun berdasarkan waktu pertandingan. Intensitas latihan akan meningkat secara bertahap hingga atlet mencapai kondisi terbaik atau peak performance ketika kompetisi dimulai.

Ketika jadwal berubah, program tersebut harus kembali disusun agar atlet tidak mencapai performa terbaik terlalu cepat kemudian mengalami penurunan ketika pertandingan akhirnya berlangsung.

KONI Kobar secara khusus mengingatkan masing-masing cabang olahraga agar menyesuaikan kembali program Training Camp atau TC dan membuat pola latihan lebih fleksibel selama jadwal baru belum ditetapkan.

Para pelatih juga harus menjaga keseimbangan antara mempertahankan kondisi atlet dan menghindari risiko latihan berlebihan.

Karena itu, penundaan tidak dapat hanya dipandang sebagai tambahan waktu persiapan. Tanpa penyesuaian program yang baik, ketidakpastian jadwal juga dapat menjadi tantangan bagi atlet yang selama berbulan-bulan telah menyiapkan kondisi terbaik untuk bertanding pada Oktober.

Persiapan Porprov Sudah Berlangsung Sejak Beberapa Bulan

Porprov XIII Kalteng 2026 sebelumnya telah dipersiapkan cukup panjang.

Pada April 2026, KONI Kalimantan Tengah bahkan sempat memperpanjang pendaftaran tahap pertama atlet untuk memberikan kesempatan tambahan kepada KONI kabupaten/kota dan pengurus cabang olahraga mendaftarkan atlet yang akan berlaga di Pangkalan Bun.

Berdasarkan data KONI Kalteng yang diberitakan ANTARA pada periode tersebut, setidaknya 2.490 atlet sudah masuk dalam sistem pendaftaran sementara atau lebih dari 40 persen dari jumlah yang ketika itu ditargetkan. Data tersebut berasal dari berbagai cabang olahraga yang didaftarkan oleh KONI kabupaten dan kota.

Persiapan juga berlangsung di berbagai daerah.

Di Kotawaringin Timur, misalnya, cabang olahraga pencak silat telah melakukan seleksi atlet, sementara sebagian besar cabang olahraga lainnya juga mulai melaksanakan proses seleksi sejak beberapa bulan sebelum jadwal Porprov.

Sementara di Palangka Raya, sejumlah cabang olahraga juga telah menjalani latihan intensif. Cabang dancesport bahkan telah menyiapkan puluhan atlet untuk mengikuti berbagai nomor yang dipertandingkan dalam Porprov XIII.

Rangkaian persiapan tersebut menunjukkan bahwa penundaan Porprov tidak hanya berdampak kepada panitia penyelenggara di Kotawaringin Barat. Seluruh kabupaten dan kota peserta ikut menghadapi konsekuensi perubahan jadwal.

Lamandau Juga Harus Menyesuaikan Persiapan

Kabupaten Lamandau menjadi salah satu daerah yang secara langsung terdampak perubahan agenda Porprov sebagai peserta pesta olahraga tingkat provinsi tersebut.

Dengan ditundanya jadwal yang sebelumnya dimulai 2 Oktober, persiapan atlet Lamandau perlu disesuaikan kembali mengikuti keputusan baru yang nantinya dikeluarkan.

Program latihan dan kesiapan kontingen perlu tetap berjalan sehingga atlet tidak kehilangan ritme selama masa menunggu.

Namun sampai saat ini belum ada informasi resmi dalam sumber yang diverifikasi Laman Bicara mengenai perubahan jumlah atlet, cabang olahraga yang akan diikuti maupun jadwal baru keberangkatan kontingen Lamandau setelah keputusan penundaan tersebut.

Karena itu, atlet dan masyarakat sebaiknya menunggu pemberitahuan resmi dari KONI maupun pemerintah daerah terkait penyesuaian teknis kontingen.

Yang jelas, situasi ketidakpastian jadwal tidak hanya dialami Kotawaringin Barat sebagai tuan rumah. KONI Kobar menyebut kabupaten dan kota peserta lainnya juga masih menunggu keputusan resmi mengenai pelaksanaan Porprov XIII.

Karhutla Kalteng Belum Berakhir

Pertimbangan karhutla dalam penundaan Porprov bukan tanpa alasan.

Kebakaran hutan dan lahan masih ditangani di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Kabupaten Lamandau.

Di Lamandau, tim gabungan BPBD, TNI, Polri, pemerintah desa, masyarakat hingga pihak swasta masih dikerahkan menangani titik api yang muncul di beberapa kecamatan. Pada 15 dan 16 September 2026, penanganan antara lain dilakukan di Desa Sungai Mentawa serta kawasan perbatasan Desa Sungai Mentawa dan Desa Tamiang, Kecamatan Bulik.

Di Desa Sungai Mentawa, sekitar tiga hektare area dilaporkan berhasil ditangani. Sementara kebakaran di kawasan perbatasan Sungai Mentawa dan Tamiang mencapai sekitar setengah hektare yang berhasil dipadamkan petugas.

Petugas menghadapi sejumlah kendala di lapangan, mulai dari sulitnya akses menuju lokasi kebakaran, jauhnya sumber air hingga keterbatasan jaringan komunikasi di beberapa kawasan. Armada truk tangki, mesin pemadam apung hingga drone turut digunakan untuk mendukung proses penanganan.

Kebakaran juga terjadi di Desa Batu Hambawang, Kecamatan Sematu Jaya.

Pada Rabu malam, 16 September 2026, tim gabungan masih berjibaku melakukan pemadaman pada lahan gambut di kawasan tersebut. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lamandau Hendikel menyampaikan sekitar tujuh hektare area telah berhasil dipadamkan, tetapi pada saat laporan disampaikan api belum sepenuhnya padam.

Lokasi sumber air yang jauh menjadi salah satu hambatan utama. Pasokan air harus diangkut dari Sungai Lamandau menggunakan armada truk tangki sebelum dapat digunakan untuk pemadaman di lokasi kebakaran.

Situasi itu memperlihatkan bahwa ancaman karhutla di Kalimantan Tengah belum dapat dianggap selesai.

Dampak Karhutla Meluas ke Berbagai Sektor

Penundaan Porprov menjadi gambaran lain mengenai luasnya dampak karhutla.

Selama ini, kebakaran hutan dan lahan sering kali dibicarakan dalam konteks kerusakan lingkungan, kabut asap dan risiko kesehatan. Namun ketika kondisi kebakaran berlangsung dalam skala luas, dampaknya dapat merambat ke banyak sektor lain.

Aktivitas pendidikan dapat terganggu ketika kualitas udara menurun. Transportasi dapat terdampak ketika jarak pandang berkurang. Aktivitas ekonomi masyarakat juga dapat mengalami tekanan.

Kini, agenda olahraga terbesar tingkat provinsi pun ikut mengalami perubahan jadwal.

Porprov XIII Kalteng merupakan ajang yang mempertemukan atlet terbaik dari kabupaten dan kota se-Kalimantan Tengah. Persiapan dilakukan berbulan-bulan melalui proses seleksi, pemusatan latihan hingga penyusunan target masing-masing daerah.

Perubahan jadwal otomatis membuat berbagai rencana tersebut perlu dievaluasi kembali.

Bagi atlet, tantangannya adalah mempertahankan motivasi ketika tanggal pertandingan belum jelas. Bagi pelatih, pekerjaan berikutnya adalah menyusun ulang periode latihan. Sementara KONI dan pemerintah daerah perlu menyesuaikan perencanaan kontingen setelah jadwal terbaru diumumkan.

Kesehatan Atlet Menjadi Pertimbangan Penting

Olahraga prestasi membutuhkan kondisi fisik yang prima.

Aktivitas latihan maupun pertandingan dengan intensitas tinggi membuat atlet membutuhkan kualitas udara yang mendukung aktivitas fisik. Ketika karhutla menghasilkan kabut asap dan kualitas udara memburuk, kesehatan menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Karena itu, kondisi lingkungan memiliki hubungan langsung dengan kesiapan sebuah kompetisi olahraga besar.

Penundaan memberi ruang bagi penyelenggara dan pemerintah untuk terus mengevaluasi keadaan sebelum ribuan atlet, pelatih, ofisial dan pendukung dari berbagai daerah berkumpul di satu lokasi.

Selain pertandingan, penyelenggaraan Porprov juga melibatkan mobilitas dalam skala besar. Kontingen harus melakukan perjalanan menuju Kotawaringin Barat, menggunakan fasilitas penginapan, transportasi lokal serta berbagai venue pertandingan.

Faktor keamanan dan kesehatan seluruh peserta menjadi bagian penting yang perlu diperhitungkan sebelum jadwal baru ditetapkan.

Pangkalan Bun Tetap Menjadi Pusat Persiapan

Kabupaten Kotawaringin Barat sebelumnya telah mempersiapkan diri sebagai tuan rumah Porprov XIII Kalteng 2026.

Berbagai persiapan venue, fasilitas pertandingan dan kebutuhan pendukung dilakukan menjelang jadwal awal Oktober. Salah satu fasilitas yang dipersiapkan adalah Stadion Sampuraga Baru di Pangkalan Bun.

Penundaan bukan berarti seluruh persiapan tersebut berhenti.

KONI Kobar menegaskan cabang olahraga dan para atlet tetap diminta melanjutkan latihan sembari menunggu pemberitahuan lanjutan dari KONI Provinsi Kalimantan Tengah.

Situasi ini juga memberi tambahan waktu bagi penyelenggara untuk memastikan berbagai fasilitas benar-benar siap ketika kompetisi akhirnya dilaksanakan.

Namun kepastian tanggal tetap menjadi kebutuhan utama seluruh pihak karena berhubungan dengan penyusunan program latihan, transportasi, akomodasi hingga anggaran kontingen.

Kontingen Menunggu Kepastian Jadwal Baru

Sampai Kamis, 17 September 2026, berdasarkan sumber yang telah diverifikasi, belum ada tanggal baru pelaksanaan Porprov XIII Kalimantan Tengah 2026 yang diumumkan.

KONI Kotawaringin Barat masih menunggu keputusan resmi mengenai jadwal pengganti. Perkembangan terbaru nantinya akan disampaikan kepada seluruh cabang olahraga setelah pemberitahuan resmi diterima.

Karena itu, atlet, pengurus cabang olahraga maupun kontingen kabupaten/kota sebaiknya tidak berpegang pada informasi jadwal baru yang belum dikeluarkan secara resmi.

Bagi Lamandau, perubahan jadwal ini menjadi tantangan sekaligus tambahan waktu untuk mematangkan kesiapan atlet. Program latihan tetap perlu berlangsung dengan penyesuaian agar kondisi fisik, teknik dan mental atlet tetap terjaga.

Di sisi lain, penanganan karhutla tetap menjadi pekerjaan besar yang harus diselesaikan bersama.

Penundaan Porprov XIII Kalteng memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada lahan yang terbakar dan kabut asap. Ketika sebuah agenda olahraga tingkat provinsi harus mengubah jadwalnya, dampak bencana telah bergerak jauh ke berbagai sisi kehidupan masyarakat. Kini, ribuan atlet dan kontingen dari seluruh Kalimantan Tengah menunggu satu kepastian: kapan pesta olahraga terbesar tingkat provinsi itu dapat kembali digelar dengan kondisi yang aman.