NANGA BULIK, LAMAN BICARA - Puluhan mahasiswa dan pemuda di Nanga Bulik, Lamandau, tetap antusias mengikuti kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi Vol II. Meski penyelenggara mengaku sempat mengalami intervensi hingga harus berpindah lokasi sebanyak tiga kali, acara tetap berlangsung meriah pada Senin (18/5) malam.

 

Latar Belakang dan Tujuan Nobar Film Pesta Babi

Kegiatan nobar film Pesta Babi Vol II digelar oleh DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Lamandau. Acara akhirnya berlangsung di Cafe Songopitu, Jalan Batu Batanggui Gang Mufakat, Nanga Bulik.

 

Ketua DPC GMNI Lamandau, Debby Pramana Putra, mengatakan pemutaran film dokumenter ini bertujuan membangun daya kritis generasi muda. Tujuannya adalah untuk merangsang masyarakat agar lebih kritis terhadap berbagai persoalan sosial dan pembangunan nasional.

Hambatan Intervensi dan Respons Penyelenggara

Menurut Debby, kegiatan nobar film Pesta Babi sempat mendapat hambatan dari aparat dengan alasan menjaga kondusivitas. Intervensi ini membuat penyelenggara harus berpindah lokasi hingga tiga kali.

Debby menyayangkan intervensi terhadap diskusi publik tersebut, baik kepada dirinya maupun pemilik tempat. Ia mempertanyakan bagian mana dari isi film yang dianggap membahayakan, terutama karena film berbicara tentang konflik tanah adat, deforestasi, dan dampak sosial pembangunan.

 

Meski begitu, Debby bersama teman mahasiswa lainnya bersyukur karena nobar film tetap terlaksana. Ia menekankan pentingnya melibatkan masyarakat adat dalam pembangunan nasional untuk menghindari konflik sosial di kemudian hari.

Diskusi Dinamis dan Harapan ke Depan

Dalam kegiatan tersebut, peserta nobar juga menggelar diskusi terkait isu konflik agraria, deforestasi, hingga dampak sosial pembangunan. Ketua HMI Cabang Pangkalan Bun, Muhammad Affis Mulyadin, menilai program pembangunan perlu dijalankan dengan pendekatan dialogis.

 

"Pemerintah harus turun langsung ke lapangan untuk mendengar aspirasi masyarakat. Dialog-dialog dengan masyarakat penting dilakukan agar program pembangunan tidak menimbulkan persoalan baru," ujarnya.

 

Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai tanggapan dari peserta yang didominasi mahasiswa dan pelajar. Salah satu peserta, Andrian, pelajar SMA 1 Bulik, mengaku penasaran mengapa film dokumenter tersebut dianggap sensitif hingga sempat mengalami penolakan.

 

"Sebenarnya dari pandangan saya seluruh Indonesia harus menonton film dokumenter ini agar semua bisa tahu bagaimana keadaan Indonesia sekarang," ucapnya.

 

Melalui kegiatan nobar dan diskusi tersebut, DPC GMNI Lamandau berharap budaya intelektual di kalangan mahasiswa dan anak muda dapat terus tumbuh. Mereka ingin ruang diskusi publik yang terbuka dan kritis untuk membangun daerah semakin berkembang.